Tampilkan postingan dengan label topik umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label topik umum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Oktober 2011

Siapa Bilang Jadi Guru Itu Mudah?




Kalau ada orang di luar sana yang bilang bahwa jadi guru itu gampang, maka saya akan dengan senang hati mempersilakan orang itu datang ke tempat kerja saya kemudian menggantikan saya sebagai guru, bukan untuk sehari tapi untuk satu tahun ajaran. Kita lihat apakah sesudah itu pendapatnya akan tetap sama?

Menjadi seorang guru tidaklah semudah yang disangka kebanyakan orang. Menurut saya pribadi, berprofesi sebagai seorang guru itu bukanlah pekerjaan yang gampang. Tanggungjawab sebagai seorang pendidik dan pengajar tidak dapat dipandang sebelah mata Dalam hal mendidik dan mengajar misalnya, siswa berpikir sekali maka gurunya akan berpikir dua kali lipat, siswa belajar sekali maka guru belajar dua kali lipat, siswa pintar untuk dirinya sendiri maka guru harus menjadi pintar untuk semua siswanya. Belum lagi tugas sebagai seorang teladan bagi siswanya. Guru yang notabene hanyalah manusia biasa dituntut harus sempurna moral dan akhlaknya. Tidak boleh salah karena nanti akan ditiru siswanya. Mulai dari bertingkah laku, bergaul, berbicara sampai dengan berpakaian seorang guru harus mampu menjadi contoh yang baik untuk siswanya. Kadang hal ini membuat saya berpikir, adakah waktu luang bagi si guru untuk menjadi dirinya sendiri?

Tanggungjawab moral menurut saya pribadi adalah hal yang terberat dari menjadi seorang guru. Apakah siswa mengerti dengan pelajaran yang kita ajarkan? Apakah mereka suka dengan metode pengajaran kita? Seberapa paham mereka dengan pelajaran yang saya ajar? Dan masih banyak pertanyaan akan kekhawatiran seperti itu. Apalagi kalau guru itu diperbantukan untuk mengajar mata pelajaran yang guru pengajarnya tidak ada, semakin gencar kekhawatiran itu mendera. Melihat dan mengalami hal ini secara pribadi membuat saya akhirnya paham dengan pepatah yang sering dikatakan oleh orang tua dulu bahwa menjadi seroang guru itu sebelah kaki kita ada disurga dan sebelahnya ada di neraka. Sudah tuntas dan jelaskan didikan dan ajaran yang kita berikan? Sudah benarkah contoh yang kita berikan selama ini? Jawaban dari pertanyaan ini yang akan menentukan dimana kita berakhir.

Tugas guru bukan hanya mendidik dan mengajar siswa, tapi juga membuat administrasi berupa perangkat dan kelengkapan bahan pengajaran. Seringanya pergantian kurikulum yang terjadi ditubuh pendidikan Indonesia membuat tugas ini menjadi tantangan tersendiri bagi para guru. Karena tiap kali perubahan itu terjadi maka perangkat yang dibuat pun harus disesuaikan dengan kurikulum yang terbaru.

Belum selesai sampai disini, masih ada tugas tambahan entah itu menjadi wali kelas, Pembina OSIS, Pembina Pramuka atau Pembina Ekstra Kurikuler lainnya. Dan tugas tambahan ini lazim didapatkan seorang guru apalagi guru yang sudah berstatus PNS. Tugas yang terberat menurut saya adalah menjadi wali kelas. Selama satu tahun ajaran kita menjadi wali salah satu kelas yang ada di sekolah. Semua permasalahan yang ada di kelas itu menjadi urusan dan tanggung jawab kita. Iya kalau semua siswanya mudah diatur, kalau ternyata harus menjadi wali dari kelas yang siswanya susah diatur maka hal itu akan jadi beban tambahan yang harus kita tanggung untuk satu tahun ke depan, sanggup atau tidak?

Nah, sekarang masih adakah yang akan mengatakan atau beranggapan bahwa menjadi guru itu mudah? Kalau iya, maka empat jempol saya tujukan padanya, bravo.

Rabu, 18 Mei 2011

TEACHERHOOD


Mencoba menjadi seorang guru.

Itulah yang kujalani sekarang ini. Mengapa aku sebut mencoba? Coz i realize, sampai saat ini aku masih mencoba menjadi seorang guru yang cocok, kompeten, sesuai, dan terbaik untuk siswa-siswaku. Dan aku sadar akan kekuranganku yang masih amat sangat banyak dalam mendidik dan mengajar mereka. Kalau boleh berkilah, aku akan berlindung pada fakta bahwa pengalamanku dalam hal ini memang masih baru. Masa kerjaku yang baru terhitung 1tahun 2bulan kukira dapat menjadi pembelaan bagi kekuranganku ini.

Tapi, dari lubuk hati yang terdalam aku selalu berniat dan berusaha untuk menjadi lebih baik.

Satu hal yang kupelajari dari profesi ini adalah bahwa ternyata banyak sekali permasalahan yang dibawa tiap siswa ke dalam lingkungan sekolah. Dan sebagai guru tentunya sudah mnjadi tugas kami untuk membantu mereka mencari jalan keluar dari semua permasalahn yang ada agar nantinya hal tersebut tidak menganggu proses pembelajaran mereka.

Kita tidak bisa mengibaratkan mereka layaknya daun dipohon, apabila salah satu daunnya kuning, layu, atau terkena hama tinggal potong saja biar yang lain tidak ikut layu. Kalau seperti ini yang kita lakukan maka apa bedanya guru dengan masyarakat awam yang tidak mengenal hakikat pendidikan, yang tahunya hanya menilai orang dari luarnya saja. Menilai orang dari permasalah yang mereka bawa dan perbuat lalu menghakimi mereka tanpa mau bersusah payah mencari penyebab terjadinya hal itu.

Hendaknya kita memperlakukan mereka seperti salah satu anggota tubuh kita, apabila ada yang terluka atau sakit kita akan segera mengobatinya karena kita tidak ingin salah satu anggota tubuh kita itu cacat apalagi sampai harus diamputasi.

Setiap anak memang dilahirkan dengan jalan hidup yang berbeda dan lingkungan yang berbeda pula. Sudah pasti sifat dan kelalkuannya pun berbeda. Kita sebagai guru dituntut harus mampu menghadapi dan menjembatani semua perbedaan tersebut. Karena kalau bukan kita yang membantu mereka, SIAPA LAGI????

Semoga tulisan ini bermanfaat terutama untuk diriku sendiri dan semua rekan guru yang tanpa sengaja membaca tulisan ini.

Senin, 16 Mei 2011

MEREKA LULUS...


Akhirnya....setelah melewati masa karantina selama 3 hari semua murid kami di SMKN 3 Banjarbaru dinyatakan lulus 100% tadi pagi jam 10.00 WITA...yiiihhhaaaa....

Aku ikut senang dan terharu melihat kebahagiaan mereka. Rasa bangga merasuk dalam hatiku meskipun baru setahun aku ikut bergabung di sana. Keceriaan mereka benar-benar menular. Semua guru ikut tertawa dan tersenyum melihat tingkah polah anak-anak yang kegirangan melihat hasil jerih payah mereka selama 3 tahun terbayar lunas hari ini.

Selamat jalan-jalan siswa-siswaku. Semoga tunas yang kami tanam selama ini dapat tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Jangan takut bersaing, karena kami tahu diluar sana akan banyak persaingan yang kalian alami. Ingatlah selalu kami guru-gurumu yang selama ini tak lelah membagikan pengetahuan kepada kalian takkan pernah berhenti dan bosan mendoakan semua yang terbaik untuk kalian.

Sekali lagi...SELAMAT ATAS KELULUSAN SISWA_SISWI SMK NEGERI 3 BANJARBARU..
Cayooooooooo...

(sumpah tadi aku sempat mau nangis waktu ngebagiin surat kelulusan..hihi...)

Rabu, 25 Juni 2008

Stiil Confuse, Bahasa Kerennya, Masih Bingung



Kenapa bingung?

Biasanya itulah yang akan ditanyakan orang-orang waktu kita menyampaikan bahwa kita sedang merasa bingung. Sejujurnya, aku juga bingung, kenapa kebingungan itu bisa menimpa seseorang, apa alasannya, apakah ada penjelasannya atau apakah bingung itu adalah suatu penyakit yang belum terlacak dan belum diketahui obatnya.

Bingung kan?

Sama.

 

Tapi anehnya, masalah kebingungan ini selalu jadi pilihan yang menarik untuk dibicarakan dan ditulis. Mau bukti? Dari hasil pencarian saya saja untuk judul tulisan yang ada kata "bingung"nya di Google sudah banyak sekali, lebih dari 10 halaman. Itu yang terdaftar, entah yang tidak terdaftar. Dan bukti lainnya adalah, saya sendiri juga tertarik untuk membicarakan masalah ini haha.

Membicarakan BINGUNG sama menariknya dengan membicarakan sek, narkoba, kenaikan BBM, giliran pemadaman listrik oleh PLN dan ngadatnya air PAM, tapi ini menurut aku loh, entah pendapat kalian bagaimana. Kenapa aku merasa begini, karena apa ya? Aku juga bingung, tapi yang pasti membicarakan bingung selalu berujung dengan kebingungan yang mengasikan, aneh memang tapi rasa penasaran akan akhir dari pembicaraan itu selalu menyisakan kebingungan memang.

Bingung kan?

Oke, kita teruskan saja dari pada berbingung-bingung di awal lebih bingung di akhir. 

Pernahkah kamu bangun disuatu pagi yang cerah dengan keadaan pikiran sedang kebingungan? Mimpi apa tadi malam? Apa yang dilakukan sebelum tidur? Apa yang kan dilakukan hari ini? Ingin sarapan apa? Pakai baju apa dan lain lagi?

Pernah?

Aku pernah.

Tapi ya itu tadi, aku sendiri bingung kenapa bisa merasa bingung. Apakah karena faktor pada malam sebelumnya, sebelum aku tidur aku tidak membuat rencana untuk hari berikutnya. Apa mungkin ya? Ada yang tahu jawabannya ga kira2?

Kalau dipikir-pikir, bingung itu unik loh. Hampir semua kalangan usia pernah mengalaminya. Kalau ada survei nih tentang apa yang kejadian atau situasi yang paling sering dialami manusia, aku bakalan duluan unjuk tangan terus ngomong keras-keras, istilahnya teriak lah, BINGUNG,,,,,,gitu. Setuju ga?

Tanya aja orang yang ada disekitar kalian, pernah bingung ga, gitu? Aku yakin seyakin-yakinnya jawabannya pasti pernah. Coba aja deh kalau ga percaya. Kalau sampi ada yang jawab ga pernah, kasih tau aja sama aku siapa orangnya, umurnya berpa, alamatnya dimana, kerja apa, pokoknya biodatanya. Aku bakalan selidiki orang itu, jangan-jangan dia bukan manusia lagi haha.

Halah, bingung ah, ngomongin bingung melulu, malah tambah bingung nanti.

So, next time, (maksudnya, jadi, lain waktu) kita kupas lagi permasalahan bingung ini, OKE.

Siapa tahu aku dapat bahan atau informasi baru lagi tentang kebingungan.

Tunggu aja ya.

Sabtu, 05 April 2008

Nasib Buruk Mahasiswa FKIP Unlam

Pernah dengar ada seorang mahasiswa yang sedikitpun tidak merasakan cinta terhadap kampus tempat dia menuntut ilmu? Sangat jarang sekali kan. Walau bagaimana pun membosankannya suasana kampus, dia akan tetap merindukan kampusnya itu.

Demikian juga yang terjadi terhadap saya. Saya seorang mahasiswa FKIP UNLAM Jurusan PBS (Pendidikan Bahasa dan Seni) Program Studi PBSID. Saya sangat mencintai FKIP Unlam. Bagaimana pun lelahnya saya menjalani kehidupan sehari-hari, saya akan tetap merindukan kampus tercinta itu.

Sayang, ada beberapa beberapa fasilitas yang seharusnya dapat dinikmati semua civitas akademik tanpa terkecuali, seperti WC umum, ruang kuliah, aula, multimedia bahkan bangku taman untuk sekedar nongkrong bareng teman-teman sebelum kuliah tak bisa dinikmati dengan sempurna.

Untuk ruang kuliah, bangku taman, multimedia hampir tidak ada masalah selain jadwal yang kebetulan bentrok. Yang membuat saya sangat keberatan adalah hak untuk memakai WC dan aula.

Jujur saja, di FKIP ini apabila ada WC yang bersih dan wangi sedikit saja akan langsung dikunci, dan yang bisa menggunakannya juga hanya para dosen. Lalu bagaimana nasib kami para mahasiswa yang juga ingin membuang hajat kami tanpa terganggu bau WC yang sangat tidak enak dan keadaannya yang kotor. Kenapa kami hanya disodori dan diperbolehkan memakai WC yang tidak layak, bahkan kadang airnya pun habis. Apakah FKIP terlalu duafa untuk memberikan fasilitas yang adil kepada mahasiswa?

Ah, rasanya kok tidak. Kita tahu FKIP lagi gencar membuka kelas jalur khusus dan penyetaraan, yang tentunya itu semua juga sumber duit yang besar. Ironisnya hal itu tak diimbangi dengan ketersediaan lahan parkir yang luas, dan WC yang airnya siaga 24 jam dan wangi bunga.

Belum lagi izin menggunakan aula saat ada HIMA (Himpunan Mahasiswa) yang ingin mengadakan kegiatan, sangat sangat sulit didapatkan. Yah memang terkadang bisa, tapi itupun kami harus menunggu dengan perasaan yang H2C (harap-harap cemas), dapat izin apa tidak. Bagaimana kegiatan mahasiswa tidak mati, kalau hanya sekedar ingin bernapas lega saja susah di kampus sendiri. Lebih baik HIMA ditiadakan saja sekalian di kampus ini.

HIMA ada tentu maksudnya agar mahasiswa tak hanya kuliah saja, dan itu adalah bidang kerja dari adanya Pembantu Dekan III yang memang bertanggungjawab menjaga perkembangan aktivitas ekstra kuliah mahasiswa di FKIP Unlam. Kalau mahasiswa enggan mengadakan kegiatan ekstra karena terkendala persoalan mencari ruang aktivitas bersama yang layak, lalu buat ada HIMA? Bubarkan saja, dan itu artinya tak perlu lagi ada PD III dan itu pun berarti bisa menghemat duit, jika memang kesejahteraan yang ingin dipilih kampus ini dengan cara menghemat duit dan mengorbankan kesejahteraan mahasiswanya.

Lalu apa gunanya ruangan itu dinamakan aula, kalau penggunaannya sama saja dengan ruangan kuliah yang lain. Apa gunanya tiap tahun, dari tahun 2005 sampai sekarang, jalur mandiri dibuka dengan pungutan biaya yang tidak sedikit dan dikatakan bahwa uangnya digunakan untuk membangun gedung kuliah baru kalau toh kami para mahasiswa tetap merasakan kesulitan mencari ruangan untuk kuliah, ruangan untuk mengadakan kegiatan.

Mana buktinya kalau uang-uang itu digunakan untuk membangun gedung, untuk kesejahteraan kami kuliah. Jangan sekedar bicara, tapi berilah kami rasa sejahtera itu. Kami tidak perlu janji, tapi bukti. Kami tidak akan protes kalau apa yang kami dapatkan di kampus sesuai dengan yang dijanji-janjikan.

Sekali lagi saya katakan, bahwa saya cinta FKIP, saya cinta kampus ini. Tapi dengan adanya hal-hal seperti yang saya terangkan di atas, rasanya kecintaan saya terhadap kampus ini ada yang mengganjalnya. Saya tidak bermaksud menjatuhkan almamater saya sendiri, saya berani menuliskan semua perasaan saya ini malah dengan harapan kampus dapat memperbaiki citra diri dihadapan seluruh civitas akademiknya, terutama kami para mahasiswa yang belajar di dalamnya.

Saya terpaksa membicarakan segala kejelekan muka sendiri ini di koran karena saluran komunikasi di FKIP sekarang mampet seperti keran-keran WC yang ada di sini. Di FKIP orang berbicara bukan dengan bahasa kasih sayang, tapi dengan kekuasaan dan senioritas.

Jauh di dalam hati saya, saya yakin bukan cuma saya satu-satunya mahasiswa yang merasakan nasib seperti ini. Yang saat ingin membuang hajat tapi harus rela berlari jauh ke mesjid kampus karena WC di kampus kotor dan airnya kering. Yang ingin mengadakan kegiatan tapi semua ruangan dikatakan penuh dan tidak bisa digunakan sehingga terpaksa menggunakan balai yang ada di tengah kampus dengan konsekuensi acara tidak akan berjalan optimal.

Tapi sayang seribu kali sayang, teman-teman saya yang lain itu mungkin takut untuk mengungkapkan uneg-unegnya, takut mengalami pencekalan dari orang dalam mungkin. Yah, meskipun saya sendiri sejujurnya juga merasa takut, tapi saya lebih takut mendengar rengekan dan cemoohan dari hati saya sendiri yang mengatai saya adalah seorang pengecut dan tidak berguna apabila tidak segera mengungkapkan hal ini.

Kasihan teman-teman saya, mereka cuma bisa menahan sakit hati tanpa berani bersuara dan senyum-senyum saja menerima nasib buruk karena hak-hak mereka yang dikebiri. Ingin sekali rasanya saya mengajak mereka untuk menumpahkan segala kekesalan mereka akan hak-hak atas fasilitas kampus yang dihalang-halangi. Ingin rasanya mengajak mereka bersama-sama menyuarakan apa yang selama ini terpendam di dalam hati, apa yang selama ini diinginkan dan diharapkan dari kampus tercinta ini. Tapi kepada siapa ?

(Ne artikel yang aku, niatnya seh biar bisa di muat di koran, tapi gak tau neh kira2 masuk pa ga,,doain yak teman2,,,)

Kamis, 03 April 2008

Hidup Penulis

Aku kagum terhadap para penulis. Benar, aku kagum sekali pada mereka. Bagaimana cara mereka mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang bagus dan bermanfaat bagi pembacanya, mereka mampu mengolah dan merangkai kata menjadi kalimat yang puitis dan indah. Dan yang pasti, mereka mampu membagi waktu untuk menciptakan tulisan itu.

Aku juga sering diminta dosenku untuk rajin menulis. Keinginan itu pun ada dalam hatiku. Tapi sampai sekarang aku tidak juga bisa untuk merealisasikannya. Ada saja alasan yang bermunculan dikepalaku tiap kali ditanya kenapa aku tidak menulis. Aku bahkan sengaja membuat blog ini, yah kupikir bisa kujadikan sebagai pemicu untuk terus menulis. Tapi ternyata hasilnya sama. Aku tetap selalu mempunyai alasan apabila aku tidak sempat membuat posting baru.

Terkadang aku berpikir, kita semua sama mendapatkan waktu 24 jam, tidak ada yang lebih. Tapi mengapa, sebagian orang sangat pandai mengatur dan mempergunakan waktunya dengan baik tapi yang lainnya selalu gagal. Yah salah satu contohnya adalah aku.

Aku baru menyadari hal itu tadi, ketika aku membaca salah satu posting teman blogger. Disana dia menuliskan bahwa semua orang memdapat jatah waktu yang dalam sehari, 24 jam, tidak ada yang lebih. Tapi toh orang-orang yang berhasil itu mampu menggunakan waktunya semaksimal mungkin.

Yah,sekali lagi aku salut atas kemampuan mereka yang kuanggap luar biasa itu. Mengapa luar biasa? Karena tidak semua orang mampu dan bisa melakukan seperti yang bisa mereka lakukan kan!

Jumat, 22 Februari 2008

Gosip...Gosip...Gosip

Gosip, gosip, gosip. Siapa yang ngga suka gosip? Anak-anak, remaja, dewasa, lansia, perempuan dan laki-laki hampir semuanya suka bergosip. Meski ada yang mengaku tidak suka, tapi terkadang tanpa sadar toh juga melakukannya.

Gosip lebih sering dikaitkan dengan kaum perempuan, karena memang pada kenyataannya yang sering melakukannya adalah perempuan. Budaya gosip seperti sudah mendarah daging bagi mereka. Banyak topik yang dapat dijadikan sebagai bahan gosip. Dari yang biasa, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sampai yang luar biasa. Apapun itu, selama itu dapat dijadikan sebagai bahan bergosip, pasti akan segera dilahap habis oleh mereka.

Tanpa disadari, gosip sebenarnya merupakan suatu hal yang layak untuk diperhatikan. Banyak kejadian-kejadian yang ajaib dibaliknya yang seringkali luput dari pandangan kita. Salah satu dari keajaiban itu dapat kita lihat pada kasus berikut. Dua orang perempuan atau lebih yang notebenenya yang tidak saling kenal dapat segera berbincang-bincang dengan seru apabila mereka terlibat dalam satu gosip yang mungkin baru saja mereka ketahui ataupun topic lama namun masih hangat dibicarakan. Bahkan dua orang perempuan yang tidak pernah bertegur sapa satu sama lain ataupun yang pernah dan masih berselisih dapat menjadi satu pikiran ketika sedang bergosip. Mereka rela melupakan pertikaian diantara mereka demi sebuah gossip. Gimana..ajaib kan?

Demam gosip lebih banyak menimpa ibu-ibu rumah tangga yang saat anak-anaknya pergi bersekolah dan suami-suaminya bekerja dan mereka tidak memiliki pekerjaan yang dapat dilakukan. Biasanya dalam sebuah komplek perumahan atau dalam suatu komunitas disuatu desa, para ibu ini akan berkumpul dan segera saja perkumpulan mereka itu akan menjadi sebuah ajang untuk bergosip ria. Ada saja yang mereka gosipkan, mulai dari berita selebritis, masalah harga sembako, tentang orang disekitar mereka atau mungkin, meskipun jarang, topic tentang politik atau berita yang sedang hangat. Tidak heran kenapa acara-acara infotaiment yang ada disemua stasiun televise kita jadi ngga ada matinya. Selalu saja ada acara serupa yang baru, seolah-olah kita kekurangan acara seperti itu saja. Acara-acara yang berjenis pendidikan malah semakin jarang ditemukan sekarang. Bagaimana dampaknya kepada anak-anak kita, kita bisa melihatnya sekarang. Mereka lebih hapal tentang gosip selebritis daripada tentang pelajarannya.

Yah, kita tinggal berdoa saja, semoga dampak ini tidak akan bertambah mengkhawatirkan. Dan semoga saja, meskipun tetap bergosip tapi kita masih tetap ingat pada hal-hal yang memang tidak boleh disinggung,,,,,(apa coba? Hehehe,,,,)

(posting ini drafnya aku buat bareng loh ama posting yang Orang Besar….itu.
Sekali lagi, semoga kalian berkenan membacanya hehe,,,)

Orang Besar Itu Akhirnya Pergi

Sudah hampir sebulan aku ngga pernah posting lagi. Kemarin karena sibuk ujian, lanjut liburan, pulkam deh. Ini saja aku ngetik masih di rumah, iseng aja ngga da kerjaan.
Banyak sekali kejadian yang terjadi disekitar kita akhir-akhir ini. Yang terbaru, Januari tadi, mantan Presiden ke-2 negara kita tercinta ini meninggal dunia. Siapa lagi kalau bukan Soeharta. Berita menjadi sorotan utama hampir semua stasiun televisi, radio, media massa selama beberapa hari. Bahkan ada stasiun tv yang special meliput dan melaporkan semua hal yang bersangkutan dengan beliau.

Siapa yang tidak mengenal Soeharto, sesosok tiran yang menguasai bangsa kita ini hampir setengah abad. Yang telah banyak membangun sekaligus menghancurkan Negara kita ini dalam masa pemerintahan itu. Sosok yang dikenal dengan julukan smile generally ini meski banyak dihujat tapi juga banyak memujanya. Apalagi mereka yang merasa betapa mudahnya hidup yang kita jalani, ekonomi, pangan dan sandang yang tercukupi selama dia berkuasa. Tapi bagi mereka yang mengalami siksaan baik lahir maupun batin juga banyak masih menyimpan kemrahan padanya.

Diakhir hidupnya, tidak sedikit orang mengantar kepergiannya, entah benar-benar tulus atau hanya sekedar ikut-ikutan. Hanya sekedar ingin melihat akhir dari seorang yang selama hampir setengah abad berkuasa dulu begitu ditakuti oleh rakyat Indonesia. Segala kekuasaan dan kekayaan yang ada toh tidak menghindarkannya dari kematian.

Mungkin di dunia memang banyak yang mengawalnya kelubang peristirahatan terakhir, tapi nantinya dia akan tetap sendiri juga menghadapi pertanyaan malaikat-malaikat-Nya di kubur nanti.

(posting ini aku buat tanggal 28 Januari 2008 tadi, salah satu dari rangkaian ide-ide yang bermunculan dikepalaku dan menuntut untuk ditetaskan dari tempat bersarangnya.entah bagaimana akhirnya dan bagaimana pendapat kalian, semoga kalian berkenan membacanya hehe)